GANTUNGKANLAH CITA-CITAMU SETINGGI LANGIT

Kata “cek gu” (meminjam istilah Upin-Ipin untuk menyebut gurunya)  : Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit. Masih ingat waktu kecil dulu anak prasekolah (PAUD/TK) pasti akan ditanya  cita-citamu apa Dik ? atau Besok kalo udah besar mau jadi apa Dik?…………. . Umumnya anak kecil akan menjawab :  dokter, guru, pilot, polisi, tentara atau insinyur pertanian karena pemerintah dulu emang menggalakkan betul sektor pertanian untuk menunjang perekonomian.
Tidak heran dulu banyak muncul fakultas pertanian dan peminatnyapun bisa dikatakan “mbludak” alias berlebih. Tapi berbeda 1800 dengan kondisi saat ini, bisa dikatakan ga ada anak kecil yang kalo ditanya cita-citanya ingin jadi insinyur pertanian sehingga tidak heran banyak fakultas pertanian yang “tutup” karena sepi peminat. Pernah saya tahu di sebuah fakultas pertanian universitas swasta peminatnya hanya 5 orang….kaya les privat aja…hehehe.  Dulu juga sangat jarang sekali yang ingin jadi presiden atau bisa dikatakan “tidak ada” karena presidennnya emang enggak untuk diganti alias ituu…u terus…hehehe….(maaf ya pak)…..berbeda dengan sekarang “dari anak kecil hingga kakek-nenek” semua ingin jadi presiden…. , sayangnya “sak Indonesia”  cuma dibolehkan ada satu presiden….. .kacian deh yang ga kepilih…. . hehehe.
Tiap orang memang hendaknya memiliki cita-cita karena dari cita-cita itulah akan mengarahkan  kemana tujuan hidup yang akan dicapai. Maksudnya  jelas yaitu agar memacu kita untuk bekerja dan berusaha giat untuk mencapai prestasi setinggi-tingginya.
Entah siapa yang pertama kali mengarang atau menginspirasi munculnya peribahasa tsb tetapi yang jelas peribahasa tersebut memiliki “filosofi yang tinggi”. Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit. Kata “setinggi langit” memiliki makna yang mendalam. Kalau oleh anak kecil lebih dimaknai sebagai jabatan atau profesi  sehingga munculah cita-cita jadi dokter, presiden , guru, polisi atau tentara. Tetapi sesungguhnya  bisa juga dimaknai sebagai cita-cita hidup atau tujuan hidup yang sesungguhnya, tujuan  pencapaian akhir manusia yang tiada lain adalah surga Illahi.
Upaya untuk mencapai tujuan hidup yang sesungguhnya hanyalah bisa dicapai dengan ibadah, sebagian menyangka bahwa yang dimaksud dengan ibadah adalah hanyalah melaksanakan amalan-amalan dan ritual-ritual yang bernama doa seperti shalat, puasa dan bermacam-macam zikir.
Apakah hakikat ibadah dan penyembahan hanyalah seperti ini? Tentu saja tidak. Karena doa hanyalah bagian dari ibadah. Setiap gerakan dan perbuatan positif yang dilakukan oleh manusia merupakan ibadah, dengan syarat, gerak dan perbuatan tersebut harus dilakukan berdasarkan pada motivasi untuk mendekat pada rububiyyah dan dilakukan berlandaskan pada nilai-nilai kewajiban Ilahi.
“Sesungguhnya salat, ibadah, hidup, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (Qs. Al-An’am [6]: 162)
Sehingga definisi dari Polisi yang bekerja siang malam memburu teroris, menghalau huru-haru, walaupun sering harus “kena timpuk batu” para demonstran. Pak Tentara yang memerangi para pemberontak, kadang harus menerima resiko ditembakin sniper (kasus di Freeport Papua). Dokter, perawat dan bidan IGD yang harus siaga jaga malam, dengan seluruh daya dan konsentrasinya untuk menyelamatkan jiwa manusia (terimakasih buat temen-temen Pusk.Cebongan). Petani yang harus telaten merawat  dan mengairi sawahnya, setiap pagi dan petang menghalau burung “emprit” yang memakan padinya.  Guru SD kelas satu yang harus “super sabar” dan “gregetan” karena tingkah-polah muridnya yang “tidak jenak” di dalam kelas,  selak pengen main bola….apa aja ditendang….hehehe…(kayak anak saya) jika dilakukan dengan niat dan tujuan Ilahi, maka setiap saat baginya berada dalam keadaan ibadah.
Ringkasnya “Gantungkanlan cita-citamu setinggi langit” bisa dimaknai  sebagai upaya untuk mencapai tujuan akhir hidup yaitu surga Illahi. Cita-cita manusia yang sesungguhnya adalah pencapaian surga Illahi, profesi yang disandang atau jabatan yang diperoleh hanyalah sebagai sarana semata.
Yuk kita Gantungkan cita-cita setinggi langit….. . insya Allah.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: