“KAYU YANG TERTANCAP PAKU”. ….

Setiap manusia tidak ada yang lepas dari salah dan khilaf. Sudah  menjadi kewajiban kita untuk senantiasa minta maaf atas kesalahan yang kita lakukan dan dengan lapang dada pula untuk dapat memaafkan kesalahan orang lain. Di momen yang  sangat berbahagia ini, masih dalam suasana Idul Fitri tak ada salahnya  sedikit saya ulas tentang  “memaafkan”. ….
Kita semua pasti pernah merasakan yang namanya sakit hati, baik itu karena ucapan ataupun  perbuatan orang lain. Menjadi hal yang sangat sulit untuk menghapus rasa sakit hati tersebut  terlebih lagi untuk dapat memaafkannya. Kadang butuh waktu yang sangat lama untuk dapat melupakan atau bahkan seumur hidup pun tidak akan pernah terlupakan rasa sakit hati tersebut. Dan memang ini menjadi hal sangat umum terjadi saat ini……….. Nauzubillahi min zalik.
Pengertian memaafkan tentu tidak hanya sekedar terucap kata  maaf saja dari ujung bibir. Maaf yang sesungguhnya adalah “menghilangkan segala bekas kesalahan yang ada di dalam hati”. Tentu bukan hal yang mudah…………dan mungkinkah ???
Kaum beriman adalah orang-orang yang bersifat memaafkan, pengasih dan berlapang dada, sebagaimana dinyatakan dalam Al Qur’an : “(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali ‘Imraan [3]:134)
” …..dan hendaklah mereka mema’afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang ” (QS. An Nuur [24] ; 22)
” Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh. .” (QS. Al A’raaf [7] ; 199)
Dan berikutnya hadist-hadist tentang memaafkan :
Dari Uqbah bin Amir, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda, “wahai Uqbah, bagaimana jika kuberitahukan kepadamu tentang akhlak penghuni dunia dan akhirat yang paling utama? Hendaklah engkau menyambung hubungan persaudaraan dengan orang yang memutuskan hubungan denganmu, hendaklah engkau memberi orang yang tidak mau memberimu dan maafkanlah orang yang telah menzalimimu.” (HR.Ahmad, Al-Hakim dan Al-Baghawy).
Sabda Rasullulah, “Tidaklah Allah memberi tambahan kepada seseorang hamba yang suka memberi maaf melainkan kemuliaan.”
(HR: Muslim)
Nabi SAW bersabda : “Siapa yang merasa pernah berbuat aniaya kepada saudaranya, baik berupa kehormatan badan atau harta atau lain-lainnya, hendaknya segera meminta halal (maaf) nya sekarang juga, sebelum datang suatu hari yang tiada harta dan dinar atau dirham, jika ia punya amal shalih, maka akan diambil menurut penganiayannya, dan jika tidak mempunyai hasanat (kebaikan), maka diambilkan dari kejahatan orang yang dia aniaya untuk ditanggungkan kepadanya.” [HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah r.a]
Lantas bagaimana caranya untuk dapat “menghilangkan segala bekas kesalahan (orang lain) yang ada di dalam hati” ? Teringat diskusi dengan sahabat saya yang kebetulan sering dimarahi atasannya (Kerja di kantor tidak ada hari lain selain “senen” karena sering “diseneni” atasannya…..hehehe).
Bahwa ketika seseorang disakiti itu bagaikan “kayu yang tertancap paku”. Kalaupun paku itu dapat dicabut maka bekasnya masih akan terukir di kayu tersebut. Dan bekas itu tidak mungkin akan hilang. Semakin besar dan dalam paku yang digunakan maka kemungkinan bekasnya akan semakin besar dan dalam pula. Bahkan bisa jadi akan semakin sulit untuk dapat mencabutnya. Itulah yang terjadi diantara kita………kalaupun terucap kata maaf atau memaafkan hanya sebatas diujung bibir saja….bekas noda masih akan ada dan itu akan kembali memanas ketika timbul hal lain yang meletupnya.
Lantas apa makna dari “Idul fitri (kembali bersih) yang sebenarnya” ketika banyak orang mengadakan acara “halal bi halal” setelah lebaran yang tiada lain adalah berharap tiap orang untuk dapat saling memaafkan kesalahan orang lain ? Ada dua cara sebenarnya untuk dapat menghilangkan  ”bekas noda paku” tersebut diatas :
Yang pertama adalah dengan cara “didempul” sehingga kayu tersebut kembali baik seperti semula, bekas paku akan dapat tersamarkan. Dan ini yang banyak terjadi “memaafkan hanya sekedar pemanis bibir saja”.
Yang kedua adalah dengan cara “mengganti dengan kayu yang baru”. Kayu yang sudah penuh dengan bekas-bekas paku ataupun dengan paku yang masih tertancap kita buang dan kita ganti dengan kayu yang baru. Kita pilih kayu yang kuat (bila perlu “kayu besi” yang banyak digunakan oleh orang di Kalimantan untuk membangun rumah di atas sungai). Kayu yang kuat inilah yang diharapkan tahan dari segala ancaman “tusukkan paku”. Bukannya kayu yang membekas tetapi justru pakunya yang bengkong atau patah ketika mencoba menencapkan di kayu kita yang baru.
Setelah satu bulan penuh melalui bulan Ramadhan………bulan yang penuh dengan rahmat dan ampunan kita telah digembleng untuk dapat menahan hawa nafsu, membersihkan diri dari segala rasa iri, dengki dan sakit hati maka seyogyanya kita sudah memiliki “kayu-kayu besi” tadi…..kita sudah membuang jauh-jauh kayu yang penuh dengan paku dan bekasnya. Kita sudah siap dan dapat memaafkan dengan maaf yang sebenarnya. Memaafkan dengan menghilangkan segala bekas kesalahan orang lain dalam hati kita…..memaafkan dengan penuh ikhlas semata-mata mengharap ridhoNya. Dan itulah memaafkan yang sejati.

Taqoballahu minna wa minkum, taqobal ya karim. Minal aidin wal faidin. Mohon maaf lahir batin. Selamat Hari Raya Idul fitri 1429 H

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: