“KETIKA JAUH JADI MALAIKAT, KETIKA DEKAT JADI MANUSIA DAN KETIKA MENJALANI MENJADI SETAN”

Bulan Ramadhan ……bulan yang penuh berkah, rahmat dan ampunan……. .
Teringat sepenggal cerita di bulan Ramadhan dari istriku beberapa tahun yang lalu yang mengkisahkan acara buka bersama keponakan di  sekolahnya,  sebuah PAUD di kota Gedeg…..Jogja.
Dalam sebuah acara buka bersama sang guru berceramah bahwa dalam kehidupan saat ini manusia memang memainkan perannya masing-masing tetapi yang sering terjadi perilakunya sesuai dengan kedudukkannya sehingga munculah istilah : “KETIKA JAUH JADI MALAIKAT, KETIKA DEKAT JADI MANUSIA DAN KETIKA MENJALANI MENJADI SETAN” …..penjelasan aslinya tentu dengan bahasa yang sangat sederhana, mengingat sasarannya adalah anak-anak PAUD……berikut ini saya ingin  mengulasnya lebih jauh :
KETIKA JAUH dari kedudukkan atau jabatan dengan lantangnya seseorang  mengutarakan kolusi, korupsi, nepotisme atau apapun istilahnya. Menjadi narasumber dalam berbagai diskusi tentang korupsi menjadi acara rutin keseharian. Bak makhluk tanpa dosa dengan berbagai dasar dan argument yang seolah-olah fakta, dibeberkanya semua aib pejabat dengan kasus korupsi yang sedang menjadi sorotan masyarakat luas. Perilaku munafiknya diumbar dimana-mana. Tidak jarang demontrasipun dia lakukan sebagai upaya protes keras. Atas nama rakyat….atas nama keadilan…….demi hak asasi manusia dan lain sebagainya…..menjadi kosakata utama. Tidak peduli panas terik, hujan lebat, jalanan jadi macet, tenggorokkan kering karena harus teriak-teriak, demo tetap jalan terus bahkan waktu sholatpun sering terabaikan…..masya Allah. Bak makhluk tanpa dosa yang merasa suci bersih dia berbicara dan berbuat seolah sebagai “MALAIKAT”.
عن عبد الله بن عمرو -رضي الله عنه- أن النبي -صلى الله عليه وسلم- قال:
( أربع من كن فيه كان منافقا خالصا، ومن كانت فيه خصلة منهن كانت فيه خصلة من النفاق حتى يدعها: إذا ائتمن خان، وإذا حدث كذب، وإذا عاهد غدر، وإذا خاصم فجر )
البخاري (ح 34) مسلم (ح 58)
Dari Abdullah bin Amru ra., Nabi saw. bersabda: “Empat perangai apabila berada pada seseorang akan menjadikannya munafik tulen, dan apabila salah satunya berada pada seseorang, akan menjadikannya mempunyai salah satu sifat orang munafik, sampai meninggalkannya. Yaitu: Apabila diberi amanat ia khianat, apabila berkata ia dusta, apabila berjanji ia ingkar dan apabila bertikai ia berlaku curang.” Bukhari (34), Muslim (58)
KETIKA DEKAT dengan kedudukkan atau pejabat…….sebagai bawahan pejabat maka yang terjadi adalah “sendiko dhawuh” apa kata atasannya. Kata-kata… “Siap laksanakan”………menjadi hal wajib. Ia mulai melupakan demo-demonya dahulu……..omongannya tentang korupsi, kolusi dan nepotisme seolah hanya kenangan masa lalu…………karena saat ini dia sudah terlibat dalam sistem tersebut. Mulutnya seolah  terkunci karena sadar atau tidak dia sudah mulai merasakan nikmatnya uang haram…..sedikit demi sedikit racun haram sudah mulai merasuk dalam dirinya……tumbuhlah benih pribadi yang mulai menghalalkan yang semula disebutnya haram. Sanubarinya mulai bermetamorfose sehingga melakukan perbuatan dosa baginya adalah hal biasa………..bahkan ia mulai merasa bangga dan bahagia dengan rejeki  haramnya.  Jadila dia seorang “MANUSIA” dengan segala kelemahannya.
KETIKA MENJALANI………..tatkala dia menduduki jabatan maka perilakunya sudah berubah 1800 dibandingkan saat mengisi acara diskusi KKN ataupun demo dulu. Bahkan korupsi, kolusi dan nepotisme  yang kini dilakukannya sudah SUNGGUH SANGAT AMAT LUAR BIASA SEKALI dibandingkan pejabat yang dulu didemonya. Menghalalkan segala cara sudah menjadi menu hariannya. Untuk makan tidak sekedar nasi dan lauk-pauk……semen, aspal, kertas (berwujud uang), mobil mewah menjadi makanan pokoknya…..minyak bumi pun diminum untuk menambah kesegarannya…….bahkan “darah manusia” bila perlu ikut dihisapnya. Tidak peduli halal atau haram yang penting senang dan senang. Kini perangainya sudah berubah menjadi  “SETAN”.
Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan kita dengan firman-Nya:
يَابَنِي آدَمَ لاَ يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُمْ مِنَ الْجَنَّةِ يَنْزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْآتِهِمَا إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيْلُهُ مِنْ حَيْثُ لاَ تَرَوْنَهُمْ إِنَّا جَعَلْنَا الشَّيَاطِيْنَ أَوْلِيَاءَ لِلَّذِيْنَ لاَ يُؤْمِنُوْنَ
“Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga. Ia menanggalkan pakaian keduanya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.” (Al-A’raf: 27)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ ادْخُلُواْ فِي السِّلْمِ كَآفَّةً وَلاَ تَتَّبِعُواْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ {

208}

 Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (QS.Al-Baqarah : 208 )

Manusia memang memainkan perannya masing-masing. Tinggal bagaimana kita memainkan peran tersebut dengan tetap mendasarkan pada Quran dan Hadist. Jangan sampai istilah : “KETIKA JAUH JADI MALAIKAT, KETIKA DEKAT JADI MANUSIA DAN KETIKA MENJALANI MENJADI SETAN” menjadi kenyataan dalam diri kita.  Nauzubillahi min zalik.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: